Sabtu, 03 September 2011

homeless

siapa yg mudik angkat tangaaaannn???!!! SAYAAA :D

eh, sebelum lanjut nulis maaf lahir batin dulu deh biar afdol
maafkan saya ya saudara2 kalo selama ini selalu nulis yg aneh2 dan ga jelas dan kadang ga meaning
daaaaaan saya berjanji akan terus melakukannya, hahahaa (baca post #1 kalo mau tau kenapa :D)

okee, lanjut lagii
kali ini saya mau cerita ttg pulang2an kampung ini
seperti biasa saya ikut bapak-ibu mudik ke kampung keduanya (yang kebetulan satu kota)
yeeaaahh...yg agak aneh dalam tradisi keluarga saya adalah
kami para anak2 di'paksa' menyebut ritual ini dg 'mudik'
padahal mudik kan artinya pulang ke kampung halaman
nah, kalo kampung halaman kami ya di rumah, kalo ini mah kampung halaman situ
napa kita suruh nyebutnya mudik juga? hah? hah? hah?

*dikutuk jadi batu*

hhhmmm, baiklah sekarang mulai nyampah nulis beneran

Pulang.
entah kenapa saya suka sekali dg kata ini.
(bahkan menuliskannya saja saya sudah merasa nyaman)

FYI dulu awal2 saya ngekos di Jogja, kalo selesai kuliah saya sering pamit dengan bilang "aku balik kos duluan ya"
sampai lama kelamaan, di luar kesadaran, pamitan-selesai-kuliah saya berubah menjadi "aku pulang duluan ya"
saya menggunakan kata pulang. instead of balik-ke-kosan.
artinya saya sudah menganggap kos itu sebagai "rumah" saya.

senang sekali rasanya waktu itu
bayangkan, punya 2 rumah sekaligus,
rumah di Purwokerto (yg bener2 berbentuk rumah) dan rumah di Jogja (yang 'cuma' berupa kamar 2,5 x 2,5 dan berantakan dan panas dan sempit karena banyak barang tapi 'mbetahin'nya setengah mati)

dan bukan cuma itu. karena saya rasa rumah saya bukan cuma 2 itu saja
saat sedang di kamar kos Luluk, atau kamar Nuri, atau kamar kos Disti, atau menginap di rumah Ida, saya juga merasa sedang 'pulang'
saat bersama teman2 saya merasa 'pulang'
saat kerja part-time di gerai Dagadu saya merasa 'pulang'
dan.....saat bersama kamu dulu, walau cuma sebentar, saya juga merasa 'pulang' lho

did u? :)
 
(mungkin karena itu ya, orang yg menciptakan bahasa Inggris membedakan antara 'house' dan 'home'
karena 'home' belum tentu berbentuk bangunan, punya atap punya dinding punya pintu
karena seseorang pun bisa jadi 'rumah')

tapi itu dulu
and life does keep turning
hidup emang bener2 kaya roda yg bisa muter 180 derajat
sekarang rasanya saya kaya Tunawisma,
homeless.

di Purwokerto kok rasanya udah "feels like I don't belong here anymore"
tau kan? rasanya kaya "Iya di sini emang rumahku, tapi ga mungkin juga aku tinggal di sini lagi buat seterusnya"
tau kan? tau kan? tau kan?
(bilang tau pliss, biar tulisan ini ga semakin panjang, haha)

di Jogja juga, udah ga ada siapa-siapa, udah ga ada tempat bernaung
ya ada juga siih sebenernya, tapi rasanya udah ga akan sama lagi
ngerti kan? ngerti kan? ngerti kan?
(bilang ngerti plis)

di ****** apalagiiiiii
ini mah definitely not my home at all, apalagi dg pekerjaan yg kaya gini
mungkin lebih tepat diistilahkan dg "hell on earth"
pokoknya sungguh jauh dari definisi 'home' deh intinya
*mewek*
*caricarilowongandiJawa* 

entah ini 'quarter-life-crisis' saya
entah saya emang lagi mellow galau karena lagi mens dan inget minggu depan musti balik ke 'sana'
dan entah cuma saya yg ngalamin atau orang2 di luar sana juga banyak yg ngerasa kaya gini
yang jelas saya ngerasa homesick
homesick tapi ngga tau kemana harus mudik (hey, it's rhyme :D)

tapi saya putuskan untuk menunggu sajalah
entah menunggu dapet 'home' baru (entah berwujud rumah entah manusia)
entah menunggu pikiran saya yg berubah dan kembali menganggap pwt atau jogja sebagai 'home'
(bahkan siapa tahu pikiran saya berubah menganggap****** sebagai 'home')
entah menunggu seseorang yang menganggap saya sebagai 'home'nya datang :D

saya tunggu apapun yang baik dari-Mu
good things come to those who waits, don't they? :)


backsound: Homesick by Kings of Convenience
"a song for someone who need somewhere to long for...
homesick, 'cos I no longer know...where home is...."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar