Minggu, 11 September 2016

Cause you just might get it all

5 tahun yang lalu di tanggal yang sama aku pernah bikin post yang judulnya "a dream. a question. you." Isi postnya tentang aku nanya ke dito 5 tahun lagi dia mau jadi apa. Dito jawab "mau jadi seorang ayah"

Siapa yang nyangka 5 tahun kemudian ternyata hal itu beneran terwujud. Karena beberapa minggu lagi inshaAllah anak pertamanya akan lahir. 

Be careful what you wish for :)

Di akhir posting itu aku juga nulis, seandainya dito nanyain hal yang sama ke aku, 5 tahun lagi aku mau jadi apa, aku pasti bakal jawab "jadi ibu buat anak-anakmu." Padahal waktu itu aku masih bukan siapa-siapanya dito. 

Tapi siapa yang nyangka. Sekarang anak dito yang lagi ditunggu-tunggu itu ada di perutku :'D


So
Be careful what you wish for
'Cause you just might get it all

And i thank God i got mine :)

Rabu, 03 Agustus 2016

Kaki Kaki Kecil

*kaki kecil nendang-nendang dari dalem*

"Kenapa nak? Laper?"

*berhenti nendang*

"Haus ya? Pengen minum?"

*masih diem ga nendang*

"Cari ayah?"

*nendang-nendang kenceng*

:'D
Kangen ayahnya ternyata




Rabu, 08 Juni 2016

Runtuhnya Idealisme

Entah karena introvert atau bukan, aku ngga pernah suka kalo ada orang asing masuk ke ruang pribadiku. Jaman kuliah dan kos dulu, aku lebih suka main dan berantakin ke kamar temen kos, daripada mereka yang main ke kamarku (egois ya hahaha). Ngga tau ya, rasanya ngga nyaman dan 'insecure' aja ada orang lain di kamarku, tempat yang menurutku harusnya 'private' khusus buat aku aja.

Gara-gara itu sebelum nikah aku udah niatin banget ngga mau pake ART, maunya handle semua kerjaan rumah sendiri aja (plus tentu saja memberdayakan suami). mikirnya sih rumah kecil, baru tinggal berdua juga. Suami (yang waktu itu masih calon) juga setuju, mungkin karena dia juga introvert ya. Terus aku inget, pernah suatu ketika nonton acara gosip (yhahahaha) ada liputan Laura Basuki yang juga ngga pake ART dan kerjain semua kerjaan rumah bareng suami, dan dengan polosnya aku mikir "artis aja bisa masa aku engga" (tanpa mikir kalo bisa aja dia ga pake ART tapi pake GO Clean tiap hari)

Awalnya semua berjalan sesuai plan, emang lebih cape sih, senin - jumat berangkat pagi pulang malem, sabtu - minggu masih harus bebersih dan beberes rumah. tapi masih ga masalah, masih bisa ke-handle, kalo males cuci-setrika sesekali bisa lah laundry aja. Bahkan pas trimester awal kehamilan semua masih bisa kehandle (semua suami yang handle karena aku tiduuuurrr melele). Tapi semua berubah sejak negara api menyerang ketika perutku makin membesar dan kerjaan di kantor baru suami yang mengharuskan dia masuk kerja sampe hari Sabtu (krai). Karena udah semakin gampang cape plus suami jg cape, akhirnya kami milih weekdays kos di jakarta...dan pake ART yang dtg tiap weekend buat bantuin beberes rumah. 

Si bibi ini sebenernya ART di rumah mertua, tapi diimport khusus tiap sabtu minggu buat bantu-bantu di rumah, soalnya susah banget cari ART di daerah sekitar rumah. Udah 3 minggu si bibi rutin dateng, walaupun masih awkward dan canggung plus insecure ada orang asing di rumah, tapi kalo liat rumah jadi bersih, dapur rapi, cucian piring kelar, setrikaan beres rasanya lega juga sih udah mutusin pake jasa bibi. 

Pas pertama kali bibi dateng, sore harinya aku sempet bilang ke suami, kalo sebenernya aku sedih juga akhirnya terpaksa pake ART, padahal dari awal udah idealis banget mau handle semua kerjaan rumah sendiri. 

Me: Padahal Laura Basuki aja bisa lho ga pake ART dan ngerjain kerjaan rumah sendiri. Bagi-bagi tugas sama suami... 

Suami: iya, tapi kan Laura Basuki sama suaminya ga harus PP Bogor-Kelapa Gading setiap hari...

Me: iya juga ya...


Life oh life. 

*ruang tamu yang abis dibersihin si bibi

Kamis, 24 Maret 2016

hello...

it's me
I was wondering if after all these years you'd like to meet

2 tahun blog ini ngga diisi apa-apa, bahkan sekedar draft tulisan (walaupun ngga dipublish) juga ngga ada
maaf ya blog 

kepikiran buat mulai nulis lagi sebulan yang lalu, tapi karena banyaknya kesibukan males baru hari ini aku bisa nulis lagi. kegalauan pertama pas mutusin mau nulis lagi adalah: milih kata ganti orang pertama

dari dulu aku suka nulis pake kata ganti "saya", tapi abis dibaca lagi kok berasa terlalu formal ya. 
mau pake "aku" tapi kok rasanya aneh juga 
mau nulis pake 'gue' tapi kok ya ngga aku banget
paling enak sebenernya emang nulis pake bahasa inggris sih, kesannya santai, bacanya enak tanpa kesan formal atau 'tua'
tapi basa inggerisku ancur-ancuran :((((

terus gara-gara kelamaan mikirin itu doang malah ga pernah jadi-jadi nulis 

akhirnya aku mutusin buat ngga mikirin. let it flow aja, biar aja aku mau ngetik apa nanti, kalo pas emang pengen sok formal ya pake 'saya', kalo pas lagi sok asik ya pake gue, kalo lagi pengen pake aku ya udahlah

begitulah.

so

hello again :)








Jumat, 12 September 2014

Arung Jeram

"Kamu terlalu datar. Bersamamu aku seperti naik kapal di lautan yang tenang. Tidak menantang."

Dia diam. Aku tidak tahu apakah kata-kataku tadi menyinggungnya. Yang aku tahu, aku harus mengeluarkan ganjalan ini dari hatiku.

"Kamu maunya aku seperti apa?"

"Aku mau kamu seperti arung jeram. Tidak bisa ditebak. Mendebarkan."

Lagi-lagi dia diam. Aku membuang muka. 

Hanya selang beberapa detik kemudian, tangannya meraih tanganku. Dan semua terjadi begitu cepat saat tiba-tiba saja sebuah cincin sudah melingkar di jari manisku.

"Aku tahu naik kapal di laut yang tenang pasti lama kelamaan membosankan. Tapi tidak ada yang pergi jauh naik arung jeram."

......

Kamis, 11 September 2014

I miss Andy Dufresne and Red

Saya pernah satu kali luar biasa patah hati. 

Tapi bukan hanya karena cinta. Hidup yang mengoyak habis hati saya. Dalam satu waktu kehancuran datang satu persatu. Bertubi-tubi dan saya harus menanggung semua sendiri. 

Saat itu saya benar-benar bingung. Semua begitu gelap.


Namun kemudian ada satu hal kecil yang bisa membuat saya percaya bahwa saya pasti akan bisa melewati semua. Percaya bahwa pada akhirnya saya akan bahagia. 

Hal kecil yang sederhana:
sebuah film.



Film ini sebenarnya pernah saya tonton jauh sebelum insiden patah hati. Dan cukup membekas. Saya suka. Tapi ketika menontonnya dalam keadaan yang berbeda, dalam kondisi hati yang porak poranda, rasanya jauh berbeda. Melegakan. Sepertinya satu dari sekian luka di hati saya sedikit terobati setiap selesai menonton film ini.   

Lucu memang. Karena film pasti hanya buah khayalan manusia, bukan sesuatu yang nyata. Tapi layaknya musik, buat saya film punya daya magis sendiri yang bisa sedikit banyak merubah manusia setelah menontonnya. Itu juga kan yang dikatakan di film Janji Joni :)

Ada beberapa quotes di film ini yang benar-benar menampar saya saat itu, tapi 3 di bawah ini adalah yang tamparannya paling keras:


Kata-kata di ataslah yang saat itu sedikit mem"bangun"kan saya dari keterpurukan. Dan akhirnya membuat saya tidak menyerah, membuat saya terus berjalan sampai bisa melalui semua yang terjadi ketika itu. 

Membuat saya sampai di keadaan yang jauh lebih baik seperti sekarang ini. 

Membuat saya tidak kehilangan salah satu dari hal baik, bahkan mungkin yang terbaik yang pernah ada: 
harapan. 


Thank you for the lessons. 

I miss you both :)

Senin, 25 Agustus 2014

Sepenuhnya Saya

Kadang saya ingin dilahirkan kembali
dengan wajah zooey deschanel
attitude dan selera humor jennifer lawrence
lekuk tubuh jessica alba
kharisma dan kecerdasan marissa anita
suara norah jones
keanggunan kate middleton

Kadang. 

But most of the time saya tahu pasti
yang paling saya inginkan adalah mejadi diri sendiri. 

Karena rasanya
sampai saat ini saya belum pernah sepenuhnya 
menjadi saya.


Minggu, 24 Agustus 2014

Jakarta Siang Ini

Terik

Udara membakar 
layaknya api berkobar

Mengundang keluh setiap manusia di jalan
Menyunggingkan senyum di bibir buruh cucian

Mengoyak raga menjadikannya abu
Layaknya hati yang diterjang cemburu

Hatiku. 


Senin, 30 Desember 2013

Terbang


Sudah lima kali berturut-turut aku bermimpi terbang.

Aku masih ingat setiap detailnya. Awalnya aku merasakan sensasi melayang, kemudian melesat mengudara ke angkasa. Aku merasa bebas. Bebas dan ringan. Perasaan ringan yang menyenangkan. Tapi seketika berubah menyakitkan saat aku terbangun dan menyadari semuanya hanya mimpi. Dan aku tetap sendirian.

"Itu pertanda mau ketemu jodoh." Aku menceritakan tentang mimpiku pada Ayah pagi ini.

Aku sudah menebak kata-kata itulah yang akan keluar dari mulut Ayah. Hal sama juga beliau sampaikan saat dulu aku bermimpi digigit ular, tenggelam di laut, menjadi pengantin, bahkan saat aku bercerita tentang mimpiku dikejar hantu. Semua mimpiku bagi Ayah artinya adalah 'mau ketemu jodoh'.

"Itu kan doa dari Ayah." Ayah mengacak rambutku pelan, seakan bisa membaca pikiranku.

"Amin." jawabku singkat.

"Makanya kalau tertarik sama cowok, move dong. Jangan diam saja. Dulu pun almarhum ibu kamu yang pertama kali inisiatif ngajak nge-date."

Aku hanya memberi anggukan pelan sebagai jawaban.

"Hari ini ke mana?"

"Ke gedung kesenian, Yah. Mau ngeliput pameran foto."


***

Tema pameran foto ini adalah sebuah kejuaraan surfing di salah satu pantai beberapa minggu lalu. Biasa saja. Tidak terlalu istimewa.

Aku berjalan melewati deretan foto-foto para peselancar sambil tetap mencatat di notes kecil yang selalu kubawa kemana-mana.

Kemudian aku sampai di depan foto itu. Foto yang dalam sekejap mampu membuatku menarik kembali kesimpulanku mengenai pameran.

Foto yang sederhana sebenarnya. Tentang seorang surfer yang sedang beratraksi di atas papannya. Yang membuatku terkesima adalah timing pengambilannya yang sungguh tepat sehingga dalam foto itu si peselancar tampak sedang terbang.

Terbang.

Hal yang terus 'menghantui'ku hampir seminggu belakangan. Mungkin karena itulah foto di depanku tampak jauh lebih menarik dibanding semua foto di ruangan ini.

Aku membaca keterangan di bawah foto itu:

Namanya Debur Ombak Selatan.

Oke, orangtua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan?

Bukan nama asli.

Oh.

Julukan tersebut diberikan atas aksi-aksinya yang memukau. Saat berada di atas papan selancar pria ini tidak menaklukkan ombak, dia menyatu dengan mereka. Dia menjadi bagian dari ombak.

"Aku kelihatan tampan di foto ini." Sebuah suara mengagetkanku. Aku memandangi lelaki yang entah sejak kapan berdiri di sebelahku. Dia balik menatapku sambil menaikkan sebelah alisnya, "Iya, ngga?"

"Boleh tahu nama aslimu?" Aku tidak menjawab pertanyaannya.

"Angga."

"Angga." aku mengulang namanya.

"Patangga. Bahasa Sansekerta."

"Oh, nama yang bagus. Artinya?"

"Patangga artinya terbang. Terbang ke angkasa."

Jantungku seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Kemudian menyusul perasaan ringan yang sama dengan yang kualami lima malam berturut-turut sebelum ini. Hanya saja kali ini aku tidak sendirian.

Dialog dengan ayah tadi pagi kembali terngiang di kepalaku.

"Angga..."

"Ya?"

"Mau ngopi bareng ngga habis dari sini?"




P.S.
Terinspirasi dari quote film (500) Days of Summer:
"I dream sometimes about flying. It starts out like I’m running really, really fast and I’m like superhuman and the terrain starts to get really rocky and steep. And then I’m running so fast that my feet aren’t even touching the ground and I’m floating and it’s like this amazing, amazing feeling. I’m free and I’m safe, but then I realize, I’m completely alone. And then I wake up."  –Summer Finn







Jumat, 13 September 2013

Cinta Sebatang Rokok

Mau kuceritakan tentang cinta?

Cinta itu seperti rokok. Awalnya kamu iseng mencoba sebatang saja, dan lalu kecanduan tanpa tahu kenapa.

Cinta itu seperti rokok. Semakin dihisap semakin mematikan. Kamu tahu dia akan membunuhmu pelan-pelan, tapi peduli setan! Satu slop pun sanggup kamu habiskan.

Cinta itu seperti rokok. Kamu terbiasa pada satu merk saja, tapi tetap sesekali menghisap merk lain untuk coba-coba.

Cinta itu seperti rokok. Apapun hal buruk yang orang ucapkan tentang keduanya kamu tidak lagi peduli. Karena terkadang mereka memang tidak selalu bisa memahami betapa sulitnya berhenti merokok, apalagi berhenti mencintai.










Mau kuceritakan tentang rindu?
Sebentar, 
aku merokok sebatang dulu.

Kamis, 12 September 2013

Pure Shores

"Terima kasih, Bu"

Aku kembali masuk ke mobil dan melanjutkan menyetir sendirian. Menurut ibu di warung tadi, tempat yang kutuju masih cukup jauh, tapi arahku sudah benar. Sengaja tidak kuputar musik apapun di dalam mobil. Yang paling kubutuhkan saat ini adalah ketenangan. Itu juga alasan kenapa aku memilih pergi tanpa mengajak siapapun, padahal tersesat adalah bakat alamiku. Tapi kali ini aku butuh sendirian. Sangat butuh. 

Radio mobil sengaja kumatikan, semua telepon genggam sudah dinonaktifkan. Namun tanpa bebunyian pun aku merasa sangat ramai di sini, di dalam kepalaku lebih tepatnya. Suaraku sendiri terus menggema, tak henti berbicara pada entah siapa. Bermacam masalah dan pikiran seperti berkecamuk, berebutan meminta untuk terlebih dulu dipecahkan. Berbagai ingatan berputar tidak beraturan bagai film beralur maju mundur. Dan akulah aktris yang hingga kini masih tidak tahu sama sekali bagaimana akhir dari filmku sendiri.

Kusut.

Ah, ini tikungan yang tadi disebut-sebut oleh si ibu.

Aku menepikan mobilku di pinggir sebuah jembatan. Terpana untuk beberapa detik melihat pemandangan di seberang. Hamparan pasir putih yang beradu dengan biru lautan. Aku merasa....entah apa. Damai. Tenang. Kosong. Aku hanya ingin menumpahkan semua, menuntaskan niat dan satu-satunya alasanku jauh-jauh datang kemari.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!









Lega.






Rabu, 11 September 2013

Nak, Jangan Lekas Besar

Nak, jangan lekas besar
Dunia orang dewasa itu kejam dan brutal
Di dunia kami yang berharga hanya uang dan jabatan
Bukan lagi koleksi boneka atau mobil-mobilan

Nak, jangan lekas besar
Saat dewasa nanti kamu akan jarang bercengkerama dengan teman-teman
Karena mereka masing-masing sibuk berkutat dengan telepon genggam

Nak, jangan lekas besar
Saat kau dewasa tak ada lagi kesempatan bermain petak umpet atau layangan
Waktumu akan habis untuk bekerja seharian
Bahkan kadang masih harus lembur sampai malam

Nak, jangan lekas besar dulu
Nikmatilah sepuasnya masamu
Masa dimana masalah terpelik yang mungkin kau alami
Hanyalah memilih krayon warna apa untuk mewarnai

#PeopleAroundUs #day1

Jumat, 06 September 2013

dua kopi kotak siap minum

Sarapan kita pagi ini adalah sebungkus besar keripik kentang rasa sapi panggang dan dua kopi kotak siap minum. Milikku warna biru, milikmu kotaknya warna ungu.

Mungkin yang kita minum pagi ini hanya dua kotak siap minum saja. Tapi kelak akan kuseduhkan untukmu kopi sesungguhnya. Kopi yang dibuat dengan coffee maker di dapur rumah kita. Setiap pagi akan kusiapkan dua...ah tidak, cukup secangkir saja.

Untukmu.

Aku cukup mencicipi sedikit sisa yang masih menempel di bibirmu.


Jumat, 10 Mei 2013

Kisah Pembunuh Bayaran



Mereka pembunuh bayaran.

Mereka berdua hidup dari kematian orang-orang yang bahkan mereka tidak ingat lagi nama-namanya. Ya, mereka hanya berdua, tapi nyawa yang teregang sudah tidak terhitung jumlahnya. Korban mereka beragam, tapi sebagian besar adalah orang-orang yang cukup berpengaruh dan punya jabatan. Masih ingat politisi yang tempo hari tewas dalam kecelakaan lalu lintas? Bukan, itu bukan kecelakaan. Salah satu ciri 'hasil karya' mereka adalah membuat korban seakan meninggal dengan ‘wajar’.

Malam ini sama seperti malam-malam lain yang mereka punya. Berkumpul di sebuah tempat terpencil, kali ini adalah sebuah warnet tak bernama di sebuah gang sempit ibukota, untuk membicarakan rencana pembunuhan selanjutnya.
“Pekerjaan kali ini terlalu mudah. Kita hanya perlu menyamar sebagai perawat rumah sakit, mencabut selang-selang di tubuhnya. Tamat.” Kata lelaki pertama.
“Sungguh tidak menantang. Lagipula kenapa harus susah-susah membayar kita untuk membunuh, toh sebentar lagi menteri renta itu mampus digerogoti penyakitnya.” Lelaki kedua menimpali.
“Wakil menteri sudah sangat tidak sabar menggantikan posisi si tua bangka. Kau sendiri dengar berapa bayaran yang akan dia berikan un....”

BRUKK!!!

Mereka terkesiap mendengar suara dari bilik sebelah.
“Kau bilang warnet ini kosong, brengsek?!” Lelaki kedua memaki dalam bisikan.
“Mana kutahu akan ada yang datang?!”

Suara berisik tadi sudah tidak terdengar, berganti dengan suara langkah kaki menjauh diikuti suara pintu warnet yang dibuka, dan kemudian menutup kembali dengan sendirinya.

“Menurutmu apakah dia mendengarnya?”
“Menurutmu apakah suaramu yang seperti toa itu tidak akan terdengar dari radius kurang dari 100 meter?” Lelaki kedua menaikkan intonasi, geram pada rekannya sendiri.
“Menurutmu kita perlu menghabisinya?”
“Menurutmu kita perlu menunggu siapapun-orang-di-bilik-sebelah-tadi menyebarluaskan apa yang barusan dia dengar?” Lelaki kedua setengah menyeret lelaki pertama keluar dari bilik mereka, membayar biaya sewa warnet yang tidak sampai satu jam digunakan dan bergegas menuju mobil merah butut merah yang terparkir di depan gang.

Tidak sampai 5 menit mobil tua itu berjalan, “Gadis kuncir kuda, kemeja hijau dan rok bunga-bunga. Persis kata penjaga warnet tadi.” Dengan satu tangan tetap memegangi setir, lelaki kedua menunjuk sosok yang jaraknya sekitar 500 meter di depan mobil mereka.
“Sepertinya dia masih sangat kecil, menurutmu apakah...?” Belum selesai lelaki pertama menyelesaikan kalimatnya, lelaki kedua mempercepat laju mobil mereka.

Yang selanjutnya terjadi hanya bunyi benturan, jeritan disusul jeritan, lalu hening di dalam mobil mereka selama perjalanan kembali ke rumah kontrakan.

***

Pagi harinya mereka duduk berdua di meja makan. Berhadapan, namun tidak saling bicara. Kopi di cangkir masing-masing mulai mendingin tanpa disesap sedikitpun oleh pemiliknya. Di meja tergeletak sebuah harian lokal, terbuka pada halaman berita berjudul:

“SEORANG GADIS TUNARUNGU MENJADI KORBAN TABRAK LARI”

***

Mereka pembunuh bayaran.

Dulunya.

Sekarang mereka adalah satpam di sebuah sekolah luar biasa. Mereka berdua hidup dari tawa anak-anak yang menjadikan isyarat sebagai bahasa.


10 Mei 2013
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan menulis # nguping dari sini 


Rabu, 08 Mei 2013

Forget Love, I’d Rather Fall in Chocolate


Tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya secangkir coklat hangat sebelum tidur. Semua stress dan rasa lelah setelah seharian beraktivitas seakan hilang bersama tetes demi tetes yang kita teguk. Tetapi mungkin hanya sedikit orang yang tahu bahwa minuman coklat tidak akan selezat sekarang tanpa jasa dari Belanda. Ya, salah satu tokoh yang berperan dalam kenikmatan minuman coklat adalah seorang ahli kimia asal Belanda bernama Coenraad Johannes van Houten. Pada tahun 1828, Coenraad van Houten berhasil menciptakan metode pembuatan bubuk coklat sehingga lebih mudah diolah menjadi minuman seperti saat ini. Metode ini kemudian lebih dikenal dengan nama Dutch process.

Sedikit mundur ke belakang, sebelum Dutch process diciptakan, coklat sudah dikenal luas oleh masyarakat dunia, khususnya Eropa. Awalnya, di Eropa coklat dikonsumsi sebagai minuman. Pembuatan minuman coklat dilakukan dengan menambahkan susu, gula, cinnamon, vanila dan berbagai bahan lain untuk mengurangi rasa pahit yang ada dalam coklat. Pada saat itu minuman coklat yang dihasilkan cenderung sulit larut dalam air, kental dan berminyak, karena tingginya kandungan lemak yang ada di dalam coklat. Kadar lemak yang tinggi tersebut juga membuat coklat lebih sulit untuk dicerna tubuh.

Coenraad Johannes van Houten

Coenraad van Houten lahir tanggal 15 Maret 1801 di Amsterdam dan merupakan putra dari pasangan Casparus van Houten dan Arnoldina Koster. Pada tahun 1815, ayahnya membuka sebuah pabrik coklat, atau tepatnya tempat penggilingan biji coklat. Penemuan Coenraad van Houten yaitu metode Dutch process sebenarnya adalah penyempurnaan dari penemuan sebelumnya dari sang Ayah. Casparus van Houten menciptakan sebuah metode hidrolik yang mampu menurunkan kadar lemak dalam coklat menjadi hampir setengah dari total awalnya. Bubuk coklat yang dihasilkan dari metode ini adalah ‘cikal bakal’ dari hampir semua produk coklat yang kemudian banyak beredar.

Coenraad van Houten menyempurnakan penemuan ayahnya dengan cara mereaksikan ‘cikal bakal’ bubuk coklat tersebut dengan alkali untuk menurunkan rasa pahit yang ada dalam coklat tanpa harus menambahkan susu atau gula. Pereaksian coklat dengan alkali inilah yang kemudian disebut Dutch process. Bubuk coklat dari Dutch process ini lebih mudah larut di dalam air serta sehingga tentunya memudahkan untuk pengolahan coklat selanjutnya. Dan yang lebih penting, metode ini mudah dilakukan serta tidak memerlukan biaya yang besar untuk pelaksanaannya.

Bubuk coklat penemuan Coenraad van Houten inilah yang kemudian beredar luas dan dikenal di seluruh penjuru dunia. Seiring dengan perkembangan teknologi, pengolahan coklat menjadi lebih beraneka ragam, tidak hanya sekedar minuman. Bubuk coklat Dutch process tetap menjadi bahan utama di setiap produk coklat yang banyak beredar, baik sebagai minuman, coklat batangan, kue coklat maupun tetap dalam bentuk bubuk coklat itu sendiri.  Untuk mengenang jasanya, nama Van Houten masih digunakan sebagai merk sebuah produk coklat dari negeri kincir angin tersebut.

Logo Van Houten


Jadi sekarang, setiap kamu akan menikmati coklat hangat, ingatlah bahwa ada Belanda di tiap tetes yang kamu sesap. 

Selamat menikmati!

Let's fall in chocolate!



Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Coenraad_Johannes_van_Houten


















Selasa, 01 Januari 2013

Self Promises

Status salah seorang teman saya bunyinya:
"Pergantian tahun adalah sesuatu yang biasa saja. Perubahan bisa dilakukan kapan saja"
Sebenarnya saya setuju dengan kalimat tersebut, kalo mau berubah mah ngapain harus nunggu tahun baru, mau berubah ya tinggal berubah aja sok. Harus diakui, memang kita kadang tergila-gila dengan perayaan, tergila-gila dengan moment, tergila-gila dengan tanggal.

Contoh: buat yang muda-muda, kita suka ngerayain tanggal jadian, monthversary lah, anniversary lah, dengan alasan buat lebih mengingat kenangan pertama ketemu, pertama jadian, dsb dsb. Padahal kalo mau nginget-nginget semua itu gausah nunggu pas tanggal ketemu atau jadian juga bisa kan? Atau hari Ibu. Kalo mau nunjukin bahwa kita nyayangin atau ngehargain ibu, ga usahlah nunggu tanggal 22 Desember, setiap hari juga bisa kita lakuin kok.

Tapi yah, namanya manusia, 'tempatnya salah dan lupa' kalo menurut salah satu lirik lagu. Mungkin kita memang perlu diingatkan. Diingatkan betapa kita dan pasangan dulu pernah teramat saling jatuh cinta sehingga perasaan masing-masing bisa tetep terjaga. Atau kadang kita ga sadar betapa berartinya ibu buat kita, betapa besar kasih sayang dan pengorbanan yang udah beliau berikan buat kita, dan hari ibu mungkin bisa sedikit mengingatkan kita. Sedikit 'menampar' betapa selama ini ternyata kita kadang tidak mempedulikan ibu kita sendiri *hiks*

Nah, sama halnya kaya tahun baru. Di hari-hari biasa kita pasti suka males mikir dan merenungkan apa-apa aja yang udah kita lakuin, jarang menyediakan waktu khusus buat merefleksikan diri, bermonolog sama diri sendiri, bertekad buat mengubah diri kita (menjadi pribadi yang lebih baik). Mungkin tahun baru adalah moment pengingat kita buat ngelakuin itu semua. Buat lebih banyak komunikasi intrapersonal (tsaaahhh gaya banget istilahnya)

Demikian pula dengan saya, semalam saya lama ngobrol sama diri sendiri, marah-marah sendiri, nyesel-nyesel sendiri, nangis-nangis sendiri, dan akhirnya bikin komitmen sama diri saya sendiri buat setahun depan. Simple, but I know up front that these all are hard to be done. 

Di tahun 2013 ini, I promise myself to:
  • Accept and love myself more
  • Read a lot, write a lot
  • Move more, be healthier
  • Looking for my passion, and go for it
  • Less complaining, be more grateful
  • Live life with less drama
Jadi, boleh saya minta 'amin' untuk keinginan-keinginan kecil saya di atas? :D

Amiiiiiin.

Selasa, 25 Desember 2012

This Year's Christmas Carol

Saya suka Natal :D

Walaupun tidak merayakan, tapi saya selalu suka suasana Natal. Dan saya juga udah pernah nulis tentang kesukaan aneh itu disini :D

Nah, mumpung saya sekarang tinggal di kota besar, suasana Natalnya bisa jauh lebih berasa nih, di mal-mal maksudnya :|

Minggu lalu saya sempet jalan-jalan sendirian ke suatu mal, terus berdiri lamaaaa di depan pohon natalnya, cuma memandang dan mengaguminya dalam diam. Kaya orang dongo. Bodo amat deh diliat sama cicik-cicik yang lewat hehe. Terus di kantor juga sempet beberapa hari dipasang pohon Natal di kantin. Pengen foto-foto tapi pasti deh ntar ujung-ujungnya diceramahin ini itu. Padahal beneran, saya suka sama suasana Natalnya aja, ga ada unsur religi-nya sama sekali. Natal kan identiknya sama tenang, salju, adem, banyak year end sale (lho?). Yaaah intinya suasananya berhawa liburan banget, walaupun libur Natal yang taun ini saya tetep masuk kerja hiks :(

Selain pohon, yang khas juga dari Natal adalah lagu-lagunya. Mengingat saya agak sentimentil :"> saya suka lagu Natal yang selow galau gitu, haha. Yang rada jazzy, easy listening terus mendayu merayu. Kalo taun lalu saya tergila-gila sama Christmas Song-nya Nat King Cole (ada di link di atas), tahun ini saya sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget sama lagu yang satu ini:

Christmas and Chris Martin! 
Too good but it's true :D

Satu lagi yang identik sama Natal: salju <3
Gara-gara kemarin liat film The Holiday (sama kamu), jadi tambah pengen beneran mengalami Natal yang bersalju. Ya, suatu saat saya akan beneran menikmati white christmas. Dan live.

Dan sama kamu :)


Jadiii
buat siapa saja yang merayakan Natal, have yourself  a merry little christmas :D
Buat yang ngga ngerayain juga tetep happy holiday  :D

Dan buat saya: happy working \:S/

*siapsiapkerja*
*sigh*


Jumat, 21 Desember 2012

lost identity

Akhir-akhir ini saya baru menyadari kalau saya sudah banyak berubah. Beberapa tahun terakhir saya berdoa setiap malam untuk seorang teman (perempuan) yang bisa nemenin jalan-jalan, nyalon, beli baju, ngobrol dll. Maklumlah, saya selalu 'dibuang' ke pulau sama perusahaan, makanya dulu ngarep banget punya temen cewe yang nyambung gitu. Tapi, giliran saya udah pindah ke tempat yang kebanyakan penduduk gini, saya malah jauh lebih suka sendirian. Saya males basa-basi, males sosialisasi, males ngobrol sama orang-orang, males dengerin orang ngomong. Sekarang pokoknya prinsip saya 'Talk less, do less too more'.

Padahal kalo inget jaman kuliah dulu, beuuuuhh bisa berjam-jam ceritaan sama temen-temen. Nyeritain segala sesuatu sampe detail, kadang plus reka adegan segala hahaha. Kalo sekarang iseng bbman sama temen-temen kuliah pasti rata-rata komennya adalah "Kangen denger ceritamu, Dhik". Yaaa secara dulu saya ibaratnya ga punya private life, apa-apa saya umbar ke temen-temen. Bahkan pernah sekali pas abis ngedate saya peragain setiap detil adegannya mulai dari ketemuan sampe obrolannya, sampe gesture si cowo itu. Hahaha super ember pokoknya.

Yes once I was an expressive and brilliant story teller :D

Sekarang mah boro-boro. Mau cerita rasanya kok males. Mau memulai obrolan kaya nge-blank, ga kepikiran mau ngomongin apa, ga ada bahan. Kalo dulu saya identik dengan banyak omong dan ekspresif, sekarang saya dikenal sebagai pendiem yang mukanya lempeng2 aja. Hahahaha

Saya kadang bertanya-tanya, ini yang salah calon-calon partner ngobrol saya atau gimana sih? Apa emang mereka ngga satu 'frekuensi', ga klik, jadinya saya ga bisa nyaman cerita. Belum nemu yang 'soul'nya sama aja kali ya. Ya tapi masa dari ribuan karyawan di perusahaan saya sekarang ga ada satupun yang klik???Berarti salahnya ada sama saya. 

Saya-nya yang ngga beres :|

Saya juga jadi bertanya-tanya. Apa mugkin 3 tahun hidup (bisa dibilang) sendirian jadi ngubah saya jadi apatis gini ya? Saya ngerasa saya bukan lagi orang yang menyenangkan buat orang lain, yang bisa nge-jokes dan bikin orang lain ketawa, yang bisa membuat diri saya jadi orang yang adorable. Dulu juga engga gitu-gitu amat sih, tapi setidaknya ga separah sekarang,

Dan pertanyaan yang paling membuat saya takut adalah,

Bagaimana jika saya yang dulu itu adalah saya yang masih mencari-cari jati diri?

Bagaimana jika

justru inilah saya yang sebenarnya?



..............

Rabu, 28 November 2012

Rumput di Halaman Saya

Kayanya saya memang terlalu sering melihat ke 'atas', ke orang-orang yang 'lebih' daripada saya. Lebih cantik, lebih pintar, lebih beruntung, pokoknya lebih. Padahal ketika saya ngobrol dengan teman-teman, ngga jarang juga ada yang bilang bahwa mereka iri sama saya. Iri sama pengalaman saya, sama kehidupan saya yang konon di mata mereka kelihatan 'berwarna' (baca: banyak masalah).

Yah, selamanya rumput tetangga memang akan selalu lebih hijau.

Tapi sekarang, instead of cuma memandang dengan iri rumput tetangga yang jauh lebih hjau, saya lebih memilih untuk merawat dan menghijaukan rumput saya sendiri saja.

Doakan ya :)

Selasa, 27 November 2012

skywalker

Aku merasa seperti melayang. Aku bahkan mulai mempertanyakan apakah ini bulu atau tubuhku. Sekedar sepoi angin bisa menerbangkanku hingga puluhan mil ke depan. Gaya tarik bumi tidak lagi merengkuhku dalam dekapan. Aku melayang.

Yang menahan gerakku hanya genggamanmu. Tangan kita terikat menyatu. Apakah kamu merasakan awan-awan lembut menampar pipi? Apakah matamu juga kenyang memandang pelangi?

Kita semakin dekat dengan sinar cerah di ujung mega. Sinar-entah-apa itu nampaknya memiliki gravitasi yang menarik kita semakin dekat padanya. Menarik terlalu kuat hingga menengok ke belakang pun kita tak bisa.

Apakah jatuh cinta memang membuat kita begitu ringan melangkah?
Karena bersamamu aku tidak merasa memijak tanah.

***

Kerumunan orang itu semakin ramai. "Ada apa?" tanya salah seorang yang baru tiba. Perempuan di sebelahnya menunjuk mobil penyok di depan mereka. "Sepertinya sepasang kekasih. Tangan mereka saling menggenggam."